Menikmati Evolusi Belajar
ARK PRIVATE Education Leadership THE ARK SCHOOL

Menikmati Evolusi Belajar

Januari 2004

Keunggulan bukanlah hasil perjuangan sehari. Keahlian dan prestasi yang diraih oleh Lionel Messi dan Christiano Ronaldo bukanlah hasil dari latihan setahun. Mereka bekerja keras bertahun-tahun untuk bisa memainkan bola dengan indah dan hebat. Permainan yang memanjakan para penggila bola. Kemampuan bernyanyi Celine Dion dan Josh Groban tidak muncul begitu saja ketika lahir. Mereka berlatih dengan serius dan konsisten. Mereka telah melewati kurun waktu yang sangat panjang untuk bisa bernyanyi dengan indah. Suara merdu yang sangat memuasakan para penikmat lagu-lagu mereka. Andrea Hirata, Eka Kurniawan, dan J. K. Rowling tidak menulis buku dalam sehari. Mereka bisa menulis dengan brilian setelah melewati proses yang sangat melelahkan. Mereka semua sadar betul keunggulan akan bisa diraih setelah konsiten melewati proses. Orang-orang unggul pasti mensyukuri setiap proses yang telah mereka lewati. Hanya mereka yang konsisten bangkit ketika jatuh dan terus melangkah walau sulit yang akan menghasilkan karya yang unggul. Saya sangat terinspirasi oleh perjuangan orang-orang hebat tadi.

Aku mendirikan The Ark School tidak setelah menguasai Bahasa Inggris dengan benar-benar baik—setidaknya itu menurutku. Mengoperasikan Microsoft Office saja aku belum begitu paham. Aku belum mengerti bagaimana mengelola administrasi. Ilmu pemasaran dan menejemenku masih sangat minim. Jika kuingat sekarang pengetahuanku ketika memulai usaha ini, kadang aku heran betapa beraninya aku saat itu. Modal terbesarku saat itu adalah aku sangat suka mengajar. Komitmenku sangat sederhana. Setiap hari harus semakin baik. Aku tak berhenti memikirkan cara-cara kreatif untuk mengembangkan dan memperbaikinya.

Akhir tahun 2003 aku sudah mulai merancang brosur dengan bantuan teman menggunakan Microsoft Office. Tahun baru 2004 Ayah dan Ibu mengajak kami semua menikmati liburan tahun baru di Balige. Aku membawa brosur yang sudah kurancang. Aku berharap ada keluarga yang berminat memberi dukungan modal. Ketika bertemu dengan semua sanak famili di rumah Oppung aku coba menjelaskan rencanaku memulai usaha les Bahasa Inggris. Respon yang kudapat adalah curhatan yang sama bahwa semua keluarga juga butuh dukungan dana karena anak-anak mereka sedang kuliah. Aku tidak menyerah dengan niatku. Betapa pun sulitnya aku sudah memantapkan tekad bahwa awal Januari 2004 aku akan memulai usaha ini. Kekuatiranku menguap satu per satu. Aku tidak berhenti menyiasati setiap kesulitan yang tampaknya sangat agresif menghadang ambisiku.

Kami senang menikmati liburan di Balige, bisa bertemu dengan semua keluarga dekat. Sepanjang perjalanan pulang ke Sidikalang yang kupikirkan hanyalah bagaimana mendapatkan modal awal memulai usaha ini. Aku berhenti minta bantuan kepada keluarga. Sepertinya beberapa yang kutanya masih pesimis dengan rencanaku. Setelah mencoba bertanya kepada beberapa teman dan keluarga akhirnya aku mendapat pinjaman lunak sebesar lima ratus ribu dari temanku bernama Jesi. Pinjaman itu harus kukembalikan setelah sebulan. Kuiyakan syaratnya.

Aku mulai mencari rumah kontrakan. Jika menyewa satu rumah uangku tidak akan cukup. Aku pun mencari yang hanya menyewakan satu ruangan saja. Setelah mencari selama beberapa hari aku menemukan rumah besar di Jl. S.M. Raja Batang Beruh. Mereka sangat bersahabat. Aku jelaskan rencanaku dan kondisiku yang masih memiliki modal yang sangat terbatas. Kujanjikan aku akan bayar uang sewa setiap akhir bulan. Mereka setuju. Optimismeku bertumbuh.

Langkah berikutnya adalah menempa kursi ke tukang bangunan. Kupesan dua puluh kursi seharga 1,6 juta. Kupanjar dua ratus ribu rupiah. Kujanjikan akan kulunasi ketika kursi sudah selesai. Mereka setuju. Pintu menuju sukses mulai terbuka.

Kemudian aku mencetak brosur sebanyak lima ratus lembar dengan biaya seratus ribu rupiah, mencetak dua buah spanduk dengan biaya seratus ribu rupiah. Uangku tersisa seratus ribu rupiah, kugunakan membeli papan tulis kecil dan keperluan kecil lainnya. Tugas berat lainnya adalah mendatangkan siswa yang mau belajar di lembaga bermodal pas-pasan ini.

Aku mempromosikan lembagaku di SMKN 1 Sitinjo. Aku diizikan presentasi di hadapan seluruh siswa. Mereka tertarik dengan program yang kutawarkan. Ada sepuluh siswa mendaftar dari sekolah tersebut. Ada juga delapan siswa mendaftar dari sekolah lain. Aku bersyukur, ada delapan belas siswa yang kuajari di hari pertama les, tepatnya 4 Februari 2004.

Aku berusaha berhemat agar janjiku mengembalikan uang pinjaman modal awal sebanyak lima ratus ribu bisa kutepati. Aku terus berupaya mempromosikan lembaga belajar ini. Aku menjumpai rumah-rumah kosan siswa. Kuyakinkan mereka untuk belajar bersamaku. Kubagikan brosur ke setiap siswa yang kujumpai. Tidak sedikit yang menertawakan perjuanganku. Aku tak putus asa, mental berjuang sudah terbentuk kuat dalam diriku sejak kecil. Tidak ada kesulitan yang mampu menghadangku demi merealisasikan impianku.

Demi meningkatkan kemampuan mengajar, aku terus belajar setiap hari. Aku tak ingin siswaku kecewa. Jika mereka puas maka akan semakin banyak siswa yang mau bergabung belajar. Aku melakukan semua cara untuk membuat siswa menikmati belajar denganku.

Setiap hari aku mengevaluasi tingkat kepuasan siswa. Kudengar setiap kritik, kemudian kuperbaiki. Aku berkonsultasi dengan guru-guru senior. Perbincangan dengan banyak orang terus menginspirasi dan mendorongku memberikan pembelajaran yang terbaik. Aku sangat yakin perjuangan dan jerih lelahku pasti membuahkan hasil. The Ark School pasti maju dan berkembang. Kutekadkan dalam hati untuk terus belajar. Kaizen. Amin.

Aku adalah pengagum proses. Hasil akhir yang baik bukanlah pancaran kilat yang tiba-tiba muncul dari angkasa. Perbaikan yang kami alami adalah perubahan sedikit demi sedikit. Kami melakukan ini selangkah demi selangkah. Kusemangati timku untuk ikut serta memperjuangkan harapan-harapan kami di masa depan. Tekad yang kuat untuk menyuguhkan layanan terbaik terus menantang kami mengevaluasi dan memperbaiki setiap kegagalan yang terjadi. Kami berdiskusi dengan orang-orang yang mengerjakan hal yang sama di kota lain. Ketika bertukar pikiran dengan para senior, ide-ide segar pun bisa muncul dan berkembang lagi.

Walau belum sepenuhnya sempurna tapi kami terus berbenah dengan filosofi Kaizen. A never ending improvement and development. Semuanya tidak terjadi dalam semalam. Perubahan itu tumbuh. Ide itu berkembang, menjamur dan menjadi kenyataan. Ini adalah sebuah perjuangan sengaja. Banyak keputusan yang diambil akhirnya berkembang setelah melewati proses adu argumen yang sehat. Kuncinya adalah terbuka terhadap kritik dan masukan orang lain. Melewati semua kesulitan senantiasa mematangkan pribadi kami sebagai pendidik dan pemimpin.

Pencapaian para siswa kami terjadi secara evolusioner bukannya revolusioner, membangun pemahaman, pengertian dan pertumbuhan setahap demi setahap.

Kami tidak percaya hasil akhir yang gemilang lewat peristiwa tunggal. Tidak ada tombol yang mengubah segalanya sekaligus. Sedikit demi sedikit, temanya menjadi lebih jelas dan lebih kuat. Berusaha memahami konsep, bukan jawaban tanpa pemahaman. Tahap demi tahap yang memberi kematangan pikiran dan karakter. Itulah evolusi yang kami perjuangkan setiap hari. Kepuasaan terbesar kami adalah melihat pribadi-pribadi yang berhasil, berkarakter, dan menjadi teladan bagi generasi-generasi setelahnya. Dan kami akan terus berjuang. Demi siswa, demi Kabupaten Dairi.

10/30 Manusia Transisi

Post Comment