Kaizen Mengajar
ARK PRIVATE Education THE ARK SCHOOL

Kaizen Mengajar

Juli 1997

“Bahasa Inggrismu mantap. Bagaimana kau belajar bahasa Inggris?,” tanya guruku di sekolah. Aku bersyukur mendapat guru bahasa Inggris baru yang sangat pintar. Dia sangat mahir berbahasa Inggris. pronunciation-sangat native. Kosa katanya sangat kaya. Wawasannya sangat luas. Tadinya aku merasa bahasa Inggrisku sudah berada di angka 8 dari skala 1 sampai 10. Namun, setelah berbicara dengan pak Pistar, level kemampuan berbahasa Inggrisku langsung terjun bebas ibarat parasut yang tidak mengembang ke angka 4. Kini, giliranku yang bertanya dalam hati. “Bagaimana dia belajar bahasa Inggris?”.

“Aku belajar di les. Selain itu, aku juga rutin belajar dan berlatih secara otodidak. Menghafal kosa kata baru minimal 30 kata adalah komitmen yang tidak pernah kulanggar. Aku sangat menikmati mengaplikasikan setiap kosa kata yang kuhafal ke dalam kalimat. Saat tidak ada teman berlatih, aku sering berbicara sendiri dalam bahasa Inggris.” jawabku bangga. Cara dia menyimak setiap kisahku membuatku yakin dia akan membantuku meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Khususnya trik menguasai tata bahasa Inggris. Materi belajar yang menjadi momok bagi banyak siswa. Sekaligus alasan banyak siswa tidak suka belajar bahasa Inggris. Aku benar-benar tak sabar untuk menguasainya.

“Kamu masih kelas 3 SMK, namun kualitas bahasa Inggrismu sudah level mahasiswa Sastra Inggris semester 4,” ucapnya memujiku setinggi langit. Aku benar-benar tersanjung. Pertama kalinya aku mendapat pujian setulus dan setinggi itu. Belum pernah kutemui guru sehebat dia. Ekspresinya tenang namun ilmunya sangat dalam dan luas. Dia tahu bagaimana memperlakukan siswa dengan baik. Dia tidak pernah menghindar untuk mengajari setiap siswa yang mau berguru. Aku selalu berusaha bertemu dia setiap hari. Setiap berbahasa Inggris dengannya aku mengamati setiap kalimat yang dia ucapkan. Aku meniru pengucapannya yang sangat bagus. Ketika belajar otodidak aku mencatat setiap materi yang belum kupahami. Aku bertanya apa saja dan dia selalu menguasainya. Ilmunya jauh lebih dalam dari yang kuduga. Dia menjelaskan melebihi dari yang kutanya. Dia menjelaskan materi penting yang tidak kutanyakan. Semua kuserap dengan baik. Tak bersisa.

Melihatku rajin belajar dan berlatih dia menawarkan dua buah kesempatan yang sangat berharga. Pertama, dia memintaku mengajar di kelasku di sekolah. Pengalaman yang tidak pernah terjadi. Setidaknya kesempatan ini tidak pernah terlintas dalam imajinasi terliarku sekali pun. Aku mengajar 1 les dari 5 les dia mengajar di kelas kami. Kini aku heran bagaimana aku bisa percaya diri mengajari teman sekelasku saat itu. Seusai mengajari teman-temanku, aku diberi masukan dan saran tentang cara mengajar dan materi yang kuajarkan. Proses itu benar-benar sangat membantu meningkatkan kualitas mengajarku. Aku mendapat reaksi yang baik dari teman-temanku. Mereka tidak hanya memuji, tapi juga terinspirasi untuk mengikuti jejakku.

Kedua, dia memberiku jadwal mengajar di les miliknya pada sore hari. Aku masih memiliki jadwal kosong dua hari. Aku ambil kesempatan itu dengan antusias. Betapa bersyukurnya hatiku. Saat itu aku masih kelas 3 SMK. Aku menjadi pengajar termuda di lembaga pendidikan tersebut. Aku sering nguping untuk mengamati metode mengajar guru-guru lain. Aku meniru hal-hal bagus yang mereka miliki. Sebagian guru mengajar dengan sangat antusias. Sebagian mengajar dengan santai tapi serius. Sebagian lagi sering menggunakan alat bantu mengajar seperti gambar dan benda. Ada juga yang menterjemahkan lagu Why does the Sun  dan menyanyikannya bersama-sama. Seusai mengajar aku selalu berusaha bisa bertemu pak Pistar. Aku selalu memaksakan diri berbicara dalam bahasa Inggris. Melihat semangatku yang tak pernah redup dia berupaya agar aku bisa terus memperbaiki bahasa Inggrisku yang masih lemah dalam struktur. Untuk mengatasinya dia meminjamkanku buku tata bahasa karya Bety Schramfer Azar. Aku sangat suka membaca buku itu. Aku membuat summary buku tersebut dan menciptakan materi belajar. Aku mengajarkannya pada siswa-siswa di les milik pak Sitor. Temanku Suntogi mulai heran dari mana ilmu struktur bahasa tersebut kupelajari.

Setiap malam rumah kosku gelap gulita. Barangkali satu-satunya rumah yang belum diinstalasi listrik PLN di kota Sidikalang. Ada dua keluarga tinggal di rumah ini. Setengah depan bagian rumah dihuni oleh keluarga kosku. Uda, Tante, dan anak-anak. Sedangkan setengah belakang bagian rumah dihuni oleh keluarga adiknya uda. Anak mereka ada empat orang yang masih kecil-kecil. Pasangan pasutri ini kerja serabutan di pasar Sidikalang. Walau rumah ini gelap karena hanya diterangi lampu teplok suasananya tetap saja ribut karena anak-anak yang bergantian menangis. Namun dalam situasi itu aku tetap belajar. Cita-citaku membuatku bertahan dalam suasana itu.

Aku terus membaca buku karya Bety Azar yang kupinjam dari pak Pistar. Aku benar-benar candu terhadap pelajaran ini. Aku sering mengabaikan bidang pelajaran yang lain. Aku bisa merasa malas mengerjakan PR bidang studi akuntansi namun di saat yang sama sangat menikmati belajar bahasa Inggris. Aku sudah melihat banyak peluang emas jika aku mahir berbahasa Inggris. Aku terus mengasah kemampuan mengajarku. Pak Pistar adalah teladanku. Menjadi guru yang mengajar dengan kreatif, berwawasan luas, berekspresi tenang namun antusias adalah hasrat terbesarku sejak itu.

Sebagai anak kos aku harus mandiri mengurus segala keperluan pribadiku. Aku harus mencuci dan menyetrika bajuku. Membersihkan rumah dan memasak. Bagiku semua pekerjaan itu sangat ringan. Pekerjaan paling berat yang tidak kusukai adalah bekerja di ladang ketika aku masih kelas 1 dan 2 SMK. Untunglah ketika sudah kelas 3 aku tidak perlu lagi bekerja di ladang. Aku mengajar setiap hari segera setelah pulang sekolah. Aku sangat menikmati kelelahan ini. Menghasilkan uang dari mengajar ketika masih remaja sangatlah membanggakan.  Tante dan uda turut senang dan bangga dengan pencapainku. Mereka tampak semakin bersemangat.

Beberapa bulan kemudian uda dan tante berusaha menginstalasi listrik ke rumah. Aku tidak tahu persis bagaimana akhirnya mereka bisa merealisasikannya. Keluarga adiknya yang tinggal di setengah bagian belakang rumah sudah pindah. Kini aku sudah memiliki kamar pribadi. Harapan yang menurutku mustahil terjadi saat itu. Blessing in disguise. Sebuah kemudahan yang terjadi begitu saja. Aku tidak memiliki andil terjadinya semua berkat itu. Tuhan pasti kasihan melihatku menghadapi terlalu banyak kesukaran dan penderitaan. Aku meresponimya dengan hati yang amat sangat bersyukur.

Tidak boleh sia-sia. Setiap kemudahan dan berkat harus disyukuri dengan menggunakannya semaksimal mungkin. Aku mengajak teman-temanku belajar bahasa Inggris di rumah ini. Mereka memberiku upah. Sangat membantu menambah uang jajan dan keperluan lainnya.  Aku tidak perlu lagi malu mengajak temanku ke rumah. Suntogi semakin sering berkunjung untuk sekedar berlatih berbahasa Inggris. Narti, Trijen, dan beberapa teman lain bersedia membayar demi mendapatkan jasa mengajarku. Mereka benar-benar terinspirasi dengan kemampuanku berbahasa Inggris. Mereka ingin memiliki kemampuan dan semangat yang sama. Antusiasme setiap siswa yang mau belajar memaksaku untuk belajar setiap hari. Prestasiku menginspirasi mereka. Namun harus kuakui ambisi mereka juga mendorongku untuk belajar lebih giat lagi. Semangat itu menular.

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya,” tulis Salomo di kitab Amsal 27:17.

 

6/30 Manusia Transisi

 

 

Post Comment