Ultah ke-25
Education Meet Our Alumni THE ARK SCHOOL

Ultah ke-25

Agustus 2004

Aku cemburu pada masa kini. Cemburu pada tradisi merayakan ulang tahun oleh “Kids Zaman Now”. Sebuah kemewahan yang tidak pernah kurasakan ketika seusia mereka. Melihat tradisi dan banyaknya perayaan masa kini, kadang menimbulkan iri bagiku yang tidak pernah menikmati satu pun dari perayaan itu di hidup masa laluku.

Aku benar-benar heran ketika mendengar ada acara perayaan dan makan bersama untuk mensyukuri bayi yang sudah berumur 7 bulan dalam kandungan. Belum lahir aja sudah mendapat ucapan selamat. Aku sangat cemburu ketika pertama kali mengikutinya beberapa tahun yang lalu. Anak-anak sudah menikmati indah dan bahagianya merayakan ulang tahun sejak ulang tahun yang pertama. Mereka menerima ucapan selamat dari orang-orang dewasa. Ulang tahun adalah momen yang paling dinantikan oleh setiap anak-anak setiap tahunnya. Mereka akan menerima banyak kado dari keluarga dan sahabat. Betapa indahnya. Aku tidak hanya cemburu pada “kids zaman now” tapi juga marah pada diriku sebagai “kid zaman old”.

Sangat berbeda dengan masa laluku. Hingga kini tidak pernah sekalipun aku mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari ayah dan ibuku. Kami pun anak-anaknya sangat jarang ingat ulang tahun mereka. Kami tidak terbiasa dengan ultah-ultahan ini. Perayaan yang kami ingat setiap tahunnya hanyalah perayaan Natal dan tahun baru. Sekaligus sebagai alasan bagi kami untuk berkumpul bersama dan menikmati makanan enak. Momen yang sangat langka. Berbeda dengan bang Tony. Dia tidak pernah ingat ulang tahun kami. Namun dia selalu ingat mengingatkan kami kapan ulang tahunnya. Sebagai alasan untuk meminta kado. Cukup egois juga sebenarnya. Setidaknya ada yang memelihara tradisi ulang tahun di keluarga kami.

Ketidakadaan tradisi merayakan ultah sejak ultah pertama membuatku tidak pernah berharap mendapatkan kejutaan ucapan selamat ulang tahun. Membayangkannya saja aku tidak pernah. Walaupun aku pernah mendapatkan ucapan selamat ulang tahun ketika sekolah dan kuliah dari teman-teman, kami tidak pernah membuat acara besar untuk benar-benar merayakannya. Setidaknya tidak ada perayaan surprise dari teman-teman dan keluarga.

Ayah dan ibu lebih sering lupa hari ulang tahun mereka walau mereka masih hafal tanggal, bulan, dan tahun lahir mereka. Mereka tidak pernah merencanakan sesuatu yang berbeda di hari ulang tahun mereka. Semua berlalu seperti hari-hari yang lain. Mereka memilih untuk tidak mengingatnya.

Aku sudah mulai mengajar di The Ark School sejak awal Februari 2004. Saat itu aku belum berusia 25 tahun. Ketika akan merayakan ulang tahunku yang ke-25 pada tanggal 13 Agustus 2004 aku tidak merencanakan sesuatu yang spesial. Semua akan berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada acara perayaan. Hanya sebatas ucapan selamat ultah dari beberapa teman yang mengetahuinya. Kadang hanya 1 atau dua orang saja.

Walau tanpa rencana untuk merayakannya, bagiku usia ke-25 tetap harus kusyukuri kepada Tuhan. Pagi itu setelah bangun aku langsung pergi ke ruangan kelas di mana aku biasa mengajar. Doaku sangat bermakna dan tak terlupakan saat itu. Ketika berdoa sendiri dalam rangka ultahku yang ke-25, aku memutuskan untuk tidak meminta apa pun dari Tuhan. Aku memilih untuk hanya bersyukur dan memuji Tuhan atas kebaikannya dalam hidupku. Aku mengucap syukur untuk kesehatan, keluarga, dan pekerjaanku. Kemudian aku lanjutkan mengucap syukur hingga ke hal-hal terkecil yang kumiliki dalam hidup. Aku berterima kasih kepada Tuhan atas komputer Pentium 1 yang bisa kugunakan untuk meningkatkan kemampuan menggunakan Microsoft Word. Aku sangat bersyukur bisa menggunakannya untuk memainkan musik ketika mengajar. Siswa-siswaku sangat menikmati menyanyikan lagu-lagu bahasa Inggris yang kumainkan. Mereka selalu request lagu-lagu kesukaan mereka seperti: The Day You Went Away, Let’s Talk About Love, Don’t be Stupid, You’re the One, My Heart Will Go On, dan banyak lagi. Setelah kuaminkan semua ucapan syukurku, aku masih berdiam diri merenungkan kebaikan Tuhan dalam hidupku. Kemudian aku berdoa lagi. Aku bersyukur untuk meja dan kursi yang bisa digunakan oleh siswa-siswaku untuk belajar, untuk papan tulis, spiker, bahkan hingga hal-hal kecil lainnya. Aku sangat menikmati doaku. Ternyata mensyukuri setiap hal kecil yang bisa kita nikmati memberi kelegaan dan kepuasaan hati yang sangat melimpah.

Seperti biasa, sore harinya aku mengajar di les. Aku sudah siap sedia menunggu siswaku beberapa menit sebelum pukul 15.00 WIB. Mereka selalu datang tepat waktu. Hanya beberapa siswa yang terlambat beberapa menit. Mereka jarang tidak hadir. Aku bersyukur bukan hanya karena mereka percaya belajar di les yang baru kudirikan, tapi juga karena mengenal mereka semua secara pribadi. Kami selalu menikmati kebersamaan kami. Mungkin karena usia kami yang tidak terlalu jauh beda.

Setelah menunggu hingga setengah jam, tak satu pun dari mereka muncul. Tidak ada kabar mereka tidak akan hadir. Aku mulai bingung. Jika mereka tidak les lagi, betapa hancurnya hatiku, betapa patahnya semangatku. Masih Cuma mereka siswa yang kubimbing di les ini. Bagaimana aku bisa membuktikan kualitas jika tidak ada lagi siswa yang kuajari. Segala kemungkinan terburuk mulai mengganggu suasana hatiku yang sedang berulang tahun ke-25. Aku berusaha mengendalikan kekesalanku. Aku berjuang untuk bisa berpikir positif. “Mungkin mereka ada kegiatan ekskul dadakan,” ucapku berusaha tenang. Aku memilih menunggu. Whatever will be, will be.

Penantianku tidak sia-sia. Perjuanganku menjaga suasana hati akhirnya berakhir indah. Tetiba saja seluruh siswaku datang bersama-sama, membawa kue ulang tahun yang lumayan besar. Mereka bernyanyi dengan sangat ceria. Happy birthday to you…… Happy birthday to you…… Happy birthday.. Happy birthday… Happy birthday to you…… Kecerianku kembali. Aku senang. Mereka duduk, mereka langsung mengambil alih acara. Bergantian mengucapkan selamat ulang tahun dan berbagai harapan doa tentang rencana hidupku. Ucapan yang paling berkesan datang dari Esra Fenalosa Sihombing. “Sir, for us you are more than a teacher. You are a brother, a father, and a friend for us. Happy birthday and God bless your life…” ucapnya dengan bahasa Inggris yang sepertinya sudah dia konsep dengan baik. Aku sangat terkesan mendengar kata-katanya. Aku mengingat setiap ucapan mereka dengan baik.

First time in a lifetime. Momen itu adalah perayaan ultah secara resmi pertama kalinya dalam hidupku. Sebelumnya hanya sebatas ucapan salaman atau traktiran makan secara tidak resmi. Aku mengabadikannya dalam ingatan. Malam harinya aku kembali berdoa pribadi. Aku bersyukur atas momen indah yang bisa kunikmati bersama siswa-siswaku. Aku ucapkan syukur atas surprise yang diskenariokan oleh siswa-siswaku. Kebaikan yang mereka perbuat menyemangatiku untuk mendidik siswa lebih baik lagi. Sebuah pengorbanan yang sangat bernilai bagiku. Mereka pasti harus berhemat agar bisa membeli kue ulang tahun buatku. Thank you dear students. I’ll always remember it.

“Bagian terpenting dari berdoa adalah bersyukur. Bersyukur membuat kita mengurangi daftar permohonan ketika berdoa” – Wandi Tambunan

3/30 Manusia Transisi

Post Comment