Berkelana
Inspirasi Ayah Leadership

Berkelana

Knowledge is an unending adventure at the edge of uncertainty. –Jacob Bronowski

“Pergilah berkelana sejauh mungkin. Jalinlah persahabatan seluas-luasnya. Kelak engkau akan merasakan betapa besar manfaatnya,” ucapnya meneguhkan. Saat itu aku sedang bingung akan melangkah ke mana setelah tamat SMK. Beberapa bulan sebelum tamat aku sudah mulai berdiskusi dengan Ayah. Dia menyarankan untuk mencari kerja ke Batam atau Jawa. Yang penting mencari kerja di kota besar, pasti masa depan akan lebih baik. Mendapat uang, pengetahuan, dan segudang pengalaman.

Aku tidak tergiur sama sekali dengan saran Ayah. Di hati dan pikiranku yang ada hanyalah kuliah. Jika aku memberitahu Ayah niat itu pasti dimentahkan. Bukan karena dia tidak cinta pendidikan, namun karena tidak memiliki uang untuk membiayai. Ayah pernah menyarankanku beberapa tahun sebelumnya untuk menabung dulu dengan bekerja sebelum memutuskan kuliah. Namun aku khawatir akan terlanjur menikmati dunia kerja sehingga keinginan menjadi seorang sarjana akan menghilang ditelan waktu.

Akhirnya Ayah menyarankanku untuk pergi melangkah ke mana pun aku mau asalkan tidak tinggal di kampung. Terserah ke mana dan mau berbuat apa. Merantau akan membentuk seseorang semakin matang. Tanah rantau adalah gudangnya pengetahuan dan pengalaman, itulah keyakinan Ayah. Dia sendiri sudah menjalani yang dia sarankan. Dia memiliki prinsip, betapa pun susahnya hidup di tanah rantau, itu lebih baik daripada menjadi katak dalam tempurung.

Aku tidak sendiri dalam kebingungan. Teman-teman sekolah, khususnya teman sekelas, juga mengalami kegalauan yang sama. Mayoritas alumni SMK memilih mencari kerja. Beberapa teman mengajakku berangkat ke Pulau Batam. Mereka meyakinkanku bahwa di sana ada banyak lowongan kerja dengan gaji yang fantastis. Pak Simarmata guru Bahasa Inggrisku mencoba memberikan gambaran, membantuku menentukan pilihan. “Aku yakin jika merantau ke Batam, kau pasti dapat pekerjaan yang bagus. Namun jika ada kesempatan dan dapat dukungan keluarga, kuliah adalah pilihan yang lebih baik,” ucapnya. “Atau begini saja. Ikutilah tes masuk PTN. Jika lulus berarti kau harus berjuang dulu di bangku kuliah. Jika tidak berangkatlah merantau,” tambahnya meyakinkanku.

Ayah memberi kebebasan bagiku untuk memilih. Walau dia tetap menganjurkan agar mencari kerja saja. “Pokoknya tidak boleh tinggal di kampung. Pergilah terserah ke mana,” sarannya serius.

Aku harus menjuluki dia seorang pemberani. Dia meninggalkan orangtua dan keluarga terdekat untuk berkelana. Dia bisa saja menikmati hidup mudah dan enak di kampung jika dia cerdik mengelola kemudahan itu. Merantau adalah sebuah keputusan sadarnya, sebuah tindakan berani demi menikmati proses mematangkan diri di tanah rantau. Bagi keluarga itu merupakan langkah yang salah, sebuah keputusan gegabah tanpa perlengkapan diri yang baik. Namun persiapan dan perlengkapan yang matang akan menghilangkan sisi petualangan. Menjalani hidup yang serba diatur dan direncanakan tidaklah menarik baginya. Dia sadar bahwa jika dikontrol penuh setiap melangkah tidak akan baik bagi pembentukan dirinya.

Agustinus dari Hippo pernah mengatakan bahwa dunia ini ibarat sebuah buku. Mereka yang tidak berkelana berarti masih membaca satu halaman saja. “The world is a book, and those who don’t travel only read one page,” ucapnya. Intisari dari sebuah buku tidak akan pernah didapat dengan hanya membaca satu halaman saja. Demikian juga dengan hidup di dunia ini. Kita tidak akan pernah benar-benar memahami makna hidup jika tidak berinteraksi dengan sebanyak mungkin orang. Kita tidak akan benar-benar menikmati indahnya hidup jika tidak berkelana hingga ke ujung dunia. Hidup bersama dengan orang-orang baru yang berbeda dalam banyak hal dengan kita akan menunjukkan betapa kayanya hidup ini.

Ayah selalu membanggakan diri sebagai orang yang memiliki banyak sahabat. “Ke kota mana pun aku pergi berkelana, di sana aku pasti ada teman. Aku tidak harus menginap di hotel jika bepergian ke kota lain hingga beberapa hari,” ucapnya bangga. Dia meyakini jika kita memiliki banyak relasi maka akan ada banyak kemudahan yang kita dapatkan. Dia menantang anak-anaknya untuk memiliki sahabat dari berbagai daerah, kota, bahkan luar negeri. Mendengar saran itu ketika aku berumur sepuluh tahun selalu membuat heran dan penasaran.

Apakah mungkin aku punya teman dari banyak kota selalu menjadi pertanyaan yang ingin segera kutemukan jawabannya. Ternyata semuanya mungkin dan sangat bermanfaat. Kebaikan sahabat sering kali bisa melebihi kebaikan saudara kandung. Mereka bisa menjadi tempat kita berbagi cerita, bertukar pikiran, dan memberi solusi dari persoalan yang kita hadapi. Sahabat tak jarang menjadi tangan Tuhan ketika menyalurkan pertolongan-Nya. Berkat Tuhan tidak jatuh dari sorga langsung di hadapan kita; sahabat bisa menjadi perantara terbaik dari berkat-berkat-Nya.

Michael W. Smith dalam lagunya Friends menegaskan bahwa seumur hidup bukanlah waktu yang lama untuk dijalani sebagai sahabat. “A lifetime’s not too long to live as friends…” Seumur hidup kita membutuhkan sahabat. Orang lain juga membutuhkan kita sebagai temannya seumur hidupnya. Jika hidup kita menjadi solusi bagi masalah orang lain, itu sungguh mulia. Kebaikan itu menular. Ketika kita menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang lain, maka mereka akan terinspirasi untuk mengalami hal yang sama.

Meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Sidikalang tanpa membawa bekal memadai butuh nyali besar. Mengawali hidup sebagai anak rantau tidaklah mudah. Pemuda Batak memiliki keberanian untuk berkomunikasi dengan orang baru. Ayah selalu berusaha memulai komunikasi dengan orang lain yang belum dikenalnya. Semakin banyak orang dikenal maka semakin besar peluang mendapat pekerjaan. Itulah yang diyakininya. Walau masih kerja serabutan, setidaknya dia selalu mendapat pekerjaan untuk bertahan hidup.

Tahun 2011 yang lalu aku mengikuti EARC (East Asian Regional Conference) di Singapura. Sekitar lima ratus rohaniawan dan intelektual muda bertemu di konferensi ini. Aku sangat mensyukuri momen berharga ini. Sebuah kesempatan emas mendapatkan teman-teman baru dari sekitar 20 negara yang berbeda. Menikmati setiap sesi ceramah, khotbah, diskusi, dan berbagai kegiatan kreatif lainnya sangatlah bermanfaat bagiku. Aku sangat menghargainya. Konferensi dengan tema Wake Up The Time is Now ini mendorong semua peserta untuk bangkit dan berbuat hal-hal baik bagi negara masing-masing. Acara ini berlangsung selama enam hari. Kami sudah sepakat, semua peserta dari Medan akan tinggal satu malam lagi untuk menikmati berbagai tempat wisata.

Kami sangat bersyukur memiliki seorang sahabat yang sedang kuliah S2 di Singapura, yang dengan senang hati menemani kami melakukan perjalanan ke Universal Studio, dan beberapa objek wisata lainnya. Untuk menghemat pengeluaran, dia berusaha mencari mes gratis bagi kami. Berkat relasi yang luas dia bisa menemukannya dengan cepat. That’s what friends are for!

Kemurahan yang sejati diwujudkan dengan kesediaan kita menjadi sahabat bagi siapa pun. Bukan hanya dengan orang yang seagama dengan kita, atau dalam hal-hal lainnya sama dengan kita. Bersahabat dengan orang yang berbeda suku, agama, bahkan ras dan antargolongan adalah bukti kedewasaan berpikir. Oprah Winfrey menguraikannya dengan sangat menarik: “Hadiah terbaik yang bisa diberikan siapa pun, aku yakin, adalah hadiah membagikan diri mereka sendiri… Setiap hadiah adalah cara Anda mengekspresikan apa yang Anda rasakan tentang orang lain. Aku tahu pasti itulah yang kami lakukan di sini: menjaga agar sukacita terus berlangsung di segala musim.”

Betapa mulianya hidup mereka yang senantiasa berjuang menghadirkan sukacita dalam hidupnya, juga orang lain.

 

Post Comment