Bermain Bola
Leadership Sport

Bermain Bola

I’ve always really just liked football, and I’ve always devoted a lot of time to it. When I was a kid, my friends would call me to go out with them, but I would stay home because I had practice the next day. I like going out, but you have to know when you can and when you can’t. –Lionel Messi

Seandainya lapangan sepakbola adalah sebuah negara, maka Negara Lapangan Sepakbola akan menjadi negara paling maju di dunia. Bahkan lebih maju dari Amerika Serikat. Bukan hanya maju tapi menjadi negara di mana keadilan dan hukum ditegakkan dengan sunguh-sungguh dan seadil-adilnya. Setiap pelanggaran akan diganjar tanpa proses hukum yang bertele-tele. Semua penduduknya bekerja keras sebagai tim untuk mencapai sasaran (goal). Sekali melakukan pelanggaran Anda akan diganjar dengan kartu kuning. Dua kali melakukannya Anda akan dikeluarkan dari negara ini. Jika nekat melakukan pelanggaran besar sekali saja Anda akan diusir tanpa rasa hormat. Tidak ada yang bermalas-malasan di negara ini. Semua bekerja keras dan saling menolong demi tercapainya goal dan kemenangan. Dan uniknya semua aktivitas di negara ini adalah hiburan bagi semua orang. Bahkan mereka rela bayar mahal demi menikmati perjuangan yang mereka pertontonkan. Betapa hebatnya Negara Lapangan Sepakbola.

Di lapangan sepakbola, berlari yang cerdas adalah berlari tanpa bola. Tidak semua pemain bola hebat melakukannya. Mereka yang sanggup melakukannya dengan baik sesungguhnya sudah melakukan bukan hanya olah raga namun juga olah otak. Xabi Alonso adalah salah satu contoh yang sangat bagus. Aku mengamati keahlian pemain ini ketika bermain di klub Liverpool dan Real Madrid. Alonso sukses memainkan perannya sebagai gelandang bertahan. Dari Real Sociedad dia pindah ke Liverpool pada bulan Agustus 2004 dengan nilai £ 10.500.000. Ia memenangkan Liga Champion di musim pertamanya di klub, mencetak gol penyama kedudukan di final. Musim berikutnya, ia memenangkan Piala FA dan Community Shield. Dia pindah ke Real Madrid di awal musim 2009-2010 dalam sebuah kesepakatan senilai £ 30 juta. Maka tidak heran setelah kepindahan ini prestasi Liverpool menurun drastis sepeninggal Xabi Alonso. Setelah lima musim di klub, memenangkan penghargaan termasuk gelar liga pada 2012 dan Liga Champion pada 2014, ia dikontrak oleh Bayern Munchen senilai £ 5 juta. Ketika bermain di Bayern Munchen dia menyadari usianya tidak lagi muda. Dia memosisikan dirinya di lapangan bola dengan lebih bijaksana. Dalam sebuah konferensi pers dia berkata, “Di usiaku yang sudah kepala tiga, aku akan bermain bola lebih menggunakan otak daripada otot.” Peran dan pergerakan Alonso di lapangan senantiasa memberi perbedaan signifikan demi merebut tiga poin. Dampak dari kemampuan berlari tanpa bola benar-benar terasa ketika berusaha mengelabui lawan.

Tiga puluh tahun yang lalu di Desa Bakal Julu belum ada rumah yang berpagar. Semua halaman rumah terhubung tanpa ada pembatas. Halaman depan dari lima rumah yang berjejeran saja sudah bisa menjadi lapangan sepakbola. Mirip lapangan futsal. Sesungguhnya kami sudah bermain futsal bahkan sebelum permainan futsal itu ditemukan. Bermain bola selama tiga puluh menit saja sudah sangat memuaskan. Kami tidak pernah merasa letih padahal kami sering bermain sepulang dari ladang sekitar pukul 18.00. Walau hanya dua orang saja dalam satu tim kami pasti memainkannya. Namun jika ada lima pemain dalam satu tim pasti permain akan lebih seru.

Ayah sangat suka menonton kami bermain bola. Ketika beberapa orangtua melarang bermain bola di halaman rumah Ayah justru menonton dan mengomentari permainan kami. Hidup semakin bersemangat ketika di malam hari Ayah memuji permainananku. Mendapat pujian saat aku masih berumur sepuluh tahun sangat melambungkan semangat hidupku. Ayah menilai permainanku cerdas. Walau badanku mungil namun Ayah menyebutku lincah, gesit, dan cerdas. Tentu aku tidak sehebat yang Ayah nilai namun pujiannnya mendorong tekadku untuk terus berlatih. Dorongan semangat itu menular ke antusiasmeku mengerjakan aktivitasku yang lain.

Bermain bola senantiasa menjadi hiburan gratis. Lapangan tersedia setiap saat. Selama tanggung jawab bekerja ke ladang terlaksana dengan baik, dan pekerjaan di rumah seperti menyapu dan mencuci piring telah beres, maka orangtua tidak memiliki alasan untuk melarang. Sepulang dari ladang pukul 18.00 dan sebelum mandi sore selalu kami manfaatkan untuk bermain. Belajar dan mengerjakan PR adalah aktivitas yang tidak bisa ditunda-tunda seusai makan malam. Aku selalu memerhatikan betapa Ayah menjunjung tinggi peran dari otak. Dia selalu membanggakan diri sebagai pemenang bermain catur melawan teman-temannya di kedai tuak. Kegemaran lain yang dia sering kerjakan adalah mengisi TTS di teras rumah sambil minum kopi. “Pemain sepakbola seperti Maradonna, Van Basten, dan Rud Gullit adalah orang-orang cerdas. Kenapa aku bilang cerdas? Karena sepakbola bukan hanya permainan fisik tapi juga permainan otak,” ucapnya suatu hari. Melihat dan mendengar dia berbicara seperti itu membuat Ibu kagum pada sosok Ayah. Kelemahan terbesar Ayah adalah merealisasikan setiap rencana dan pemikirannya.

Kini aku menjadi penikmat permainan sepakbola. Tidak lagi bermain bola. Ketika ada big match, bersama dengan teman-teman sepelayanan di Perkantas Sidikalang kami sering melaksanakan acara nobar (nonton bareng). Mayoritas kami adalah pecinta Liga Inggris. Di group WhatsApp kami saling roasting mengenai kelemahan tim rival khususnya ketika sedang mengalami kekalahan. Masing-masing membanggakan klubnya ketika menang.

Aku pecinta klub asal London. Saat itu berawal dari mendukung Arsenal di final Liga Champion melawan Barcelona. Walau saat itu kalah namun itulah awal dukunganku yang konsisten pada klub ini. Aku salut dengan komitmen pelatih dan menejemen klub dalam pembinaan pemain muda. Mereka selalu menghindari membeli pemain yang sudah jadi. Sepuluh tahun terakhir Arsenal semakin sulit bersaing di Liga Inggris karena tim rival terus jor-joran membeli pemain berkualitas yang sudah jadi walaupun mahal.

Judo Lingga sebagai fan Liverpool selalu memuji sejarah besar klub kebanggaannya. Jika Liverpool sedang berada di klasemen delapan namun ketika menang melawan tim rival dia akan berselebrasi serasa baru memenangi tropi Liga Champion. Benyaris Pardosi fan sejati Manchester United tidak banyak berbicara tentang kehebatan klub kesayangannya. Namun ketika tim rival kalah dia akan menjatuhkan mental fans rival habis-habisan. Dan dalam perkumpulan para fans ini sakit hati dilarang keras.

Handayani Pardede sesungguhnya adalah fan sepakbola Italia. Dia sudah lama mengagumi klub Lazio. Namun karena kami selalu membahas Liga Inggris, dia mendaklarasikan diri sebagai fan Manchester City. Pilihan yang sangat aman mengingat Manchester biru sangat doyan membeli pemain berkualitas dan mahal. Jepri Purba adalah fan Manchester United yang kehadirannya selalu kami butuhkan ketika ada nobar. Dialah koki terbaik memimpin kami mempersiapkan makanan bersama untuk nobar. Mungkin karena itu tim kesayangannya sering menang ketika kami nobar.

Bang Edis Nababan adalah pendatang baru. Dia sejatinya penggemar tinju, namun dia belajar menyukai sepakbola. Dia sering mendukung Liverpool. Ke mana-mana dia sering memakai jersey Inter Milan. Dan anehnya jika menonton bola dia malah nonton derbi Manchester. Klub favorit, Jersey yang dipakai, dan sepakbola yang ditonton tidak sinkron. Tidak jelas sebenarnya. Namun semua demi seru-seruan. Nobar wajib adalah ketika final Liga Champion. Jadwal tayangnya selalu dini hari. Namun kami tetap bela-belain menontonnya karena siklusnya hanya sekali setahun. Sebelum kick off kami selalu membakar ikan dan daging untuk kami makan bersama. Sebuah kebersamaan yang dipersatukan oleh sepakbola.

Post Comment