Metamorfosis Visi Pendidikan
ARK PRIVATE THE ARK SCHOOL

Metamorfosis Visi Pendidikan

Metamorfosis Visi Pendidikan

It is today that we create the world of the future. –Eleanor Roosevelt

 

Hidupku kini sepenuhnya digerakkan oleh visi yang berawal dari keinginan kuat memengaruhi generasi masa kini demi pembangunan hari esok. Kerinduan itu muncul dan bermetamorfosis sebagai akumulasi dari perjuangan sulit mengecap pendidikan terbaik sejak masa kecilku. Aku ingin melihat anak-anak menikmati belajar dan bermain. Aku memiliki impian memandang mereka kasmaran belajar. Tekad dan komitmenku adalah menciptakan wadah dan atmosfir di mana anak-anak bertumbuh melalui interaksi dengan teman dan pendidik mereka. Visiku terus menguat dan berkembang. Aku terus meningkatkan kualitas diriku agar bisa berdampak lebih baik melalui pendidikan. Aku melihat pendidikan dini yang memainkan peran sangat strategis memberi dampak baik bagi generasi mendatang.

Semua orang membutuhkan pendidikan yang baik; tua, muda, miskin, kaya, pelajar, bahkan pekerja. Namun ada perbedaan dampak yang sangat signifikan jika pendidikan berkualitas bisa dikecap sejak dini. Salah satu aset terpenting bagi kemajuan sebuah bangsa adalah pendidikan sejak dini. Lewat pendidikan, seorang anak dari lahir hingga beranjak dewasa memerlukan pendidikan yang tepat.

Pemenuhan kebutuhan pendidikan pun harus disertai pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembangannya. Pemahaman ini yang akan membantu para pendidik dalam menyesuaikan proses belajar bagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing baik secara intelektual, emosional dan sosial.

Mengapa pendidikan lebih baik diberikan sejak dini? Frederick Douglas adalah seorang reformis sosial Amerika Serikat yang berpendapat bahwa jauh lebih mudah membentuk anak-anak menjadi kuat daripada berusaha memperbaiki orang-orang dewasa yang sudah rusak—“It is easier to build strong children than to repair broken men,” katanya. Dia juga menegaskan bahwa untuk menjadi seorang warga negara yang mandiri, seseorang harus memiliki kapasitas intelektual.

Memperbaiki orang dewasa yang sudah rusak bukanlah sebuah kesalahan; namun butuh waktu dan upaya yang sangat serius dan intens, juga butuh pendekatan pribadi yang tentunya akan jauh lebih sulit. Sedangkan mendidik anak menjadi kuat relatif jauh lebih mudah. Anak-anak yang belum terkontaminasi perbuatan jahat melalui kata-kata kotor dan perbuatan nakal akan lebih mudah mengecap bentukan karakter dari guru, orangtua, dan lingkungan yang baik.

Perubahan yang terlambat akan sulit diberbaiki. Dari sebuah pengalaman aku menyadari, pembinaan orang dewasa membutuhkan waktu yang lebih lama, biaya yang lebih mahal, dan perjuangan yang lebih susah. Pengetahuan yang sudah tertinggal jauh, mental yang tidak terbina dengan baik, dan karakter yang tidak dibentuk dengan budi pekerti yang bagus menyulitkan pembinaan orang dewasa.

Contoh yang relevan dengan persoalan ini terjadi pada seorang yang aku kenal baik. Aku sudah tamat kuliah dan bekerja sejak 2001, sementara orang ini putus sekolah sejak tahun 1994. Dia bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Pada tahun 2002 kami bertukar pikiran, mencoba berdiskusi bagaimana memperbaiki arah jalan hidupnya, baik pekerjaan maupun peluang untuk berkembang.

Awalnya kami sangat antusias dengan ide-ide yang kami bicarakan bersama. Tapi ide-ide itu ternyata susah diwujudkan. Bukannya merealisasikan ide, ia malah tertinggal jauh. Pengetahuan yang sangat minim, ketiadaan keahlian yang bisa dijual, dan cara berpikir yang belum terbentuk dengan matang membuatnya sulit mencapai ide-idenya. Belum lagi pendidikan terakhir yang dia sempat jalani hanyalah kelas 1 STM yang sekarang berubah nama menjadi SMK.

Untuk mewujudkan ide-ide kami tentang membangun masa depan, kami mengikuti les berbahasa Inggris. Setelah setahun dia mengikutinya, dia sudah mampu berbahasa Inggris. Kami melatih dia untuk meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris. Kami sangat bersyukur dia diterima mengajar di sebuah kursus bahasa Inggris. Namun, setelah beberapa bulan, kami kembali menemukan masalah. Dia tidak memiliki karakter yang baik untuk menjadi seorang pendidik, juga tidak cukup sabar mengajar. Akhirnya dia menyerah.

Berbagai solusi terus kami coba. Paling lama dia bertahan pada suatu pekerjaan hanya dua tahun. Kini, setelah lima belas tahun kami berusaha menata masa depannya, dia belum juga memiliki pekerjaan tetap. Begitulah sulitnya memperbaiki orang dewasa yang sudah telanjur rusak—sulit, lama, dan mahal. Mengubah orang dewasa memanglah bisa, tapi dalam kasus yang aku alami bisa disebut kemungkinan, karena prosesnya berjalan lambat.

Solusi terbaik adalah mendidik sejak kecil. Salomo yang dikenal sebagai raja paling berhikmat pernah berkata, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Orangtua harus mengabdikan diri mereka untuk memberi didikan disiplin belajar kepada anak-anak mereka. Prinsip umumnya adalah bahwa seorang anak yang telah dididik dengan benar tidak akan menyimpang dari jalan saleh yang telah diajarkan orangtuanya.

Membentuk anak-anak yang kuat pastilah jauh lebih baik dan lebih mudah. Kita bisa memperlengkapi mereka semua hal. Mengajari mereka karakter dan perilaku yang baik melalui teladan sehingga kelak mereka juga menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Mendorong mereka untuk memiliki semangat dan mental yang kuat dan pantang menyerah ketika menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Sehingga mereka akan terus berjuang mengatasi setiap masalah dan berupaya menyiasati setiap kesulitan dalam hidup, pekerjaan dan keluarga.

Sejak dini kita juga bisa mengasah keterampilan sesuai dengan minat dan bakat mereka sebagai bekal di masa depan mereka. Memfasilitasi mereka untuk mendapatkan pendidikan terbaik tentulah akan semakin memperlengkapi mereka menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, dan bermental baik demi hadirnya generasi pembaharu yang memberi dampak yang luar biasa baik bagi keluarga, masyarakat bahkan negara.

Anak-anak yang sudah ditempa dengan sedemikian baik diyakini kelak tidak akan menyimpang dari jalan baik yang sudah ditunjukkan pada mereka. Kita sebagai orangtua tentunya harus berusaha keras demi terciptanya generasi-generasi yang berkualitas ini. Butuh biaya, waktu, perjuangan yang tidak murah dan mudah. Namun jauh lebih baik dan murah jika dibandingkan dengan berupaya memperbaiki orang-orang dewasa yang sudah telanjur rusak.

Apa yang membuat seorang dewasa berbeda di masa depan, dan susah memperbaiki kelakuannya? Aristoteles adalah seorang pemikir pendidikan dan filsuf Yunani yang sangat peduli pada perkembangan pendidikan. Dia meyakini bahwa kebiasaan-kebiasaan baik yang terbentuk ketika muda akan memberi perbedaan berarti di masa depan seseorang. —“Good habits formed at youth make all the differences,” ucapnya.

Tidak bisa dibantah lagi bahwa waktu paling tepat untuk melahirkan generasi terbaik bagi negeri ini adalah dengan memerhatikan kualitas pendidikannya sejak dini. Mulai dari PAUD, TK, dan SD. Pemerintah, pengelola sekolah, guru, bahkan orangtua harus memberi perhatian dan terlibat langsung menciptakan suasana di mana anak-anak belajar dengan bergembira, sebab kecerdasan dan karakter anak muncul dan berkembang pada saat mereka menikmati belajar dan bermain.

Aku mengawali mendirikan lembaga belajar berbahasa Inggris dengan tujuan untuk menyalurkan minatku mengajar. Aku mendirikannya pada 12 Januari 2004. Aku mengamati betul metamorfosisnya tahun demi tahun. Kata-kata ekspresi ‘bersyukur’, ‘takjub’, atau ‘terdiam heran’ kurasa masih kurang memadai menggambarkan perasaanku untuk semua pertolongan, pimpinan, dan intervensi Tuhan dalam setiap ups and downs yang kualami dalam proses mengembangkannya,

Dalam setiap dimensi kehidupan ada tahapan proses pertumbuhan dan perkembangan. Menikmati prosesnya adalah bagian terpenting. Kaizen atau tetap berbenah adalah prinsip yang tidak boleh hilang.

Kini dan seterusnya biarlah visi yang menggerakkanku, ke mana akan melangkah…

IMG_20170818_092813_369

 

 

Post Comment