Kasmaran Belajar
ARK PRIVATE Education Kuliah untuk Mengubah Hidup THE ARK SCHOOL

Kasmaran Belajar

Kasmaran Belajar

Learning is a treasure that will follow its owner everywhere.  –Peribahasa Tiongkok

 

Aku berjalan cepat setelah pulang dari sekolah. Berbicara dan bermain dalam perjalanan pulang ke rumah akan membuang energi lebih banyak sementara perut sudah keroncongan. Gerombolan cacing sudah protes kehabisan stok makanan. Aku dorong pintu rumah yang tidak pernah dikunci karena memang tidak perlu dikunci. Tidak pernah ada barang berharga tersimpan di rumah. Sebelum mengganti seragam aku bergegas menuju dapur. Makan. Lauk ikan asin serasa rendang di warung nasi Padang. Namun selapar apa pun, aku harus ingat jatah makan selalu terbatas. Kami sekeluarga sering saling mendahului ketika makan siang, asalkan ingat jatah masing-masing.

Kami jarang menemukan Ayah dan Ibu di rumah pada siang hari. Mereka selalu membawa makanan siang ke ladang. Menikmati udara segar setelah letih bekerja akan membuat makan siang di ladang lebih enak. Aku, Bang Tony, dan kedua adik kami Lisken dan Eva harus menyusul mereka ke ladang seusai makan siang. Bermain sepulang sekolah tidak ada dalam pilihan kegiatan. Bekerja di ladang adalah keharusan. Padahal kami masih siswa sekolah dasar. Sangat berbeda dengan kehidupan mayoritas anak-anak di kota.

Ada hal-hal yang sudah ditetapkan di keseharian keluarga kami. Salah satunya adalah makan malam harus bersama-sama. Bukan didorong oleh semangat kebersamaan, namun demi kecukupan makanan untuk semua anggota keluarga. Jika makan sendiri-sendiri dan saling mendahului, makanan untuk enam orang bisa-bisa dihabiskan tiga orang saja. Begitulah, dengan makan bersama yang tidak terlalu lapar bisa mengalah dengan makan lebih sedikit demi memberi kesempatan pada yang lebih lapar untuk menyantap lebih banyak. Namun ibu kami yang sangat mengasihi anak-anaknya sering memilih menahan rasa lapar demi melihat kami puas dan kenyang. Butuh cinta kasih dan kesabaran untuk bisa bersikap sepert ini. Thanks, Mom.

Seusai urusan perut, selanjutnya urusan otak. Walau Ayah bukan seorang guru, dia selalu mendisiplinkan kami belajar setiap malam, langsung setelah selesai makan. Kami mengawalinya dengan menuntaskan PR. “Yakinlah kalian, jika PR kalian tuntas dengan baik setiap hari maka minimal peringkat sepuluh besar pasti kalian raih. Maka untuk mendapat peringkat tiga besar kalian harus mempelajari materi yang akan kalian pelajari besok harinya setiap hari. Dan untuk menjadi yang terbaik kalian harus selalu persiapan ujian dengan serius,” ucapnya menasihati kami. Kami tidak sepenuhnya berhasil menerapakan imbaunnya karena kerap kali kami sudah mengantuk sebelum semua yang diperintahkannya mampu kami kerjakan. Wajar. Karena kami sudah letih kerja di ladang sepulang sekolah. Setidaknya kami selalu berhasil meraih peringkat sepuluh besar.

Ketika fisik sudah letih bekerja namun hasil pertanian belum meningkatkan derajat hidup, Ayah sering mengingatkan agar di masa depan kami bekerja sebagai pegawai. Saat itu pegawai adalah istilah untuk menggambarkan mereka yang bekerja menggunakan seragam seperti guru, pekerja kantor, atau di perusahaan. “Untuk bisa menjadi seorang pegawai maka kalian harus belajar setiap hari mulai sekarang,” ucapnya mengingatkan.

Ayah mengajari kami belajar, sementara Ibu hanya mendampingi. Sebuah kebiasaan yang tidak bisa diubah. Sesekali aku memprotes peraturan kerasnya. Tidak sedikit teman seusia kami bermain setiap malam di halaman rumah. Mendengar dan melihat mereka sangat bebas bermain selalu menimbulkan kecemburuan bagi kami. Mereka tidak pernah belajar pada malam hari. Namun Ayah selalu mengingatkan bahwa peluang kami untuk berhasil dan menjadi orang hebat di masa depan akan jauh lebih besar jika kami menggunakan waktu bermain untuk belajar. Awalnya kami tidak menikmati belajar. Belajar menjadi sebuah hukuman yang menyita waktu bermain. Sangat mengecewakan.

Menyadari peraturan ini tidak akan diubah apa pun alasannya, aku mulai berpikir untuk mengubah reaksi terhadap disiplin belajar. Aku memutuskan mempersiapkan hati dan pikiran untuk hanya belajar. Khususnya seusai makan malam. Perlahan tapi pasti aku mulai menyukainya. Rutinitas belajar setiap malam menjadi sebuah kasmaran bagi kami karena di sekolah kami selalu mendapat pujian dari guru. PR selesai dengan bagus dan kami mampu memahami pelajaran dengan lebih mudah. Teman-teman sekolah mulai menghargai pencapaian kami.

Dan yang lebih menyenangkan adalah Ayah memberi kami kebebasan untuk bermain selama yang kami mau pada hari Sabtu dan Minggu. Aku sering bermain bola dan berenang bersama teman sekolah pada hari-hari itu. Sesekali kami pergi jalan-jalan ke kampung lain untuk menikmati suasana baru. Sangat seru. Keletihan selama lima hari sungguh terbayarkan di akhir pekan. Kami jarang ke ladang pada hari Sabtu kecuali jika sedang panen atau ada pekerjaan yang kejar tayang.

Begitulah kehidupan keseharian mayoritas anak-anak di desa. Bekerja di ladang sepulang sekolah. Namun hanya segelintir anak yang memiliki tradisi belajar di malam hari. Kami termasuk di dalamnya. Mengetahui teman-teman kami asyik bermain setiap malam selalu menimbulkan kecemburuan bagi kami. Namun pujian dari guru dan prestasi belajar yang selalu kami peroleh menyadarkan kami bahwa kami tidak sedang dihukum melainkan didisiplin untuk belajar. Lagipula kami tetap mendapat kebebebasan untuk bermain di akhir pekan.

Berbeda dengan anak-anak di kota. Hampir tidak ada anak-anak yang pergi ke ladang sepulang sekolah. Dalam hal prestasi belajar tidak jauh beda dengan anak-anak di desa. Mereka yang menggunakan waktu dengan bijaksana tentu akan memperoleh prestasi belajar yang lebih baik.

Aku mencermati faktor pembeda kualitas anak-anak di kota ditinjau dari segi penggunaan waktu. Setiap orang tentunya memiliki jatah waktu 24 jam sehari. Mari kita bagi menjadi tiga bagian penggunaan. Delapan jam pertama dihabiskan di sekolah. Delapan jam kedua dihabiskan untuk tidur di malam hari. Namun kerap kali yang menjadi pembeda kualitas dan keberhasilan seorang anak di masa depan adalah bagaimana mereka menggunakan waktu mereka di delapan jam yang ketiga: waktu krusial sejak pulang sekolah hingga tidur di malam hari.

Mayoritas siswa melewatinya untuk bermain, menonton TV, bermain games, bermedia sosial dan bermalas-malasan. Melakukannya sebagai selingan tidaklah salah. Namun menghabiskan waktu hingga delapan jam setiap hari untuk melakukan semua itu bukanlah kebiasaan yang baik. Bagaimana anak-anak mengelola waktu yang delapan jam ini akhirnya menjadi pembeda utama kualitas dan peluang keberhasilan mereka di masa depan. Peran orangtua sangat dibutuhkan untuk membina anak-anak di waktu-waktu strategis ini.

Kini aku sangat menikmati pekerjaanku sebagai pendidik. Aku selalu berusaha untuk tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga karakter dan kebahagiaan belajar. Aku selalu berusaha memanfaatkan waktu untuk berdiskusi dan berbagi kisah inspiratif dengan siswa.

Suatu ketika seorang siswa bertanya kepadaku, apakah dia boleh bermain game online atau tidak. Dia heran melihat orangtuanya yang sangat anti dengan game online. Dia berpikir kenapa hobi yang sangat dinikmatinya dilarang keras oleh orangtua. Dia juga bercerita sering harus berbohong dan sembunyi-sembunyi untuk bermain game online karena orangtuanya selalu melarang dan marah setiap dia ketahuan melakukannya. Dia tak menduga ketika aku mengatakan dia boleh-boleh saja bermain game online.

Sebenarnya orangtua bukan anti dengan hobi anak-anaknya. Mereka melarang karena tidak jarang anak-anak malah kebablasan menghabiskan seluruh waktu luang dan waktu belajarnya untuk bermain games. Bermain games menjadi candu yang sangat susah ditinggalkan. Semua orangtua mengharapkan yang terbaik buat anak-anaknya. Mereka ingin agar anak-anak memprioritaskan belajar dan kegiatan-kegiatan positif yang semakin mendekatkan mereka pada impian masa depan mereka, menjadi orang yang berhasil.

Gagalnya cita-cita terjadi ketika aktivitas keseharian kita tidak memiliki korelasi langsung dengan apa yang kita impikan di masa depan. Sebuah fakta dan kebenaran yang banyak orang tidak sadari. “Silahkan bermain game ketika engkau sudah letih belajar. Jangan sebaliknya,” ucapku menutup sharing kami sore itu. Dia setuju dan senang dengan saranku. Aku turut bangga karena tahun berikutnya dia lulus di jurusan Fisika Universitas Indonesia (UI) lewat jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sebuah seleksi lewat ujian tertulis. Seleksi yang sangat kompetitif.

Aku tetap menikmati proses belajar walaupun sudah tamat kuliah dan bekerja. Rutin mengisi diri dengan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhanku sebagai pendidik memberi dampak langsung bagi kualitas pengajaran. Aku sangat merasakannya ketika mendidik siswa. Ada limpahan pengetahuan dan pengalaman yang tersedia untuk kubagikan kepada anak didik.

Aku menjadi guru bahasa Inggris di The Ark School sejak Januari 2004, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang aku dirikan karena kecintaan mengajar dan kerinduan berkarya di kota kelahiran. Ada alasan yang sangat kuat membuatku berjuang memperbaiki dan mengembangkan lembaga ini hingga lebih dari satu dekade. Ada keyakinan yang sangat kuat bahwa lembaga ini akan terus bermetamorfosis hingga menjadi wadah belajar di mana anak-anak yang kudidik bisa berbahagia ketika belajar dan berinteraksi dengan teman-temannya.

Sebagai seorang pendidik aku selalu mengamati karakter, semangat belajar, dan banyak hal lainnya tentang kehidupan siswa. Kebiasaan ini terus menyalakan semangatku sebagai seorang guru. Di lembaga ini siswa yang belajar mulai dari kelas 1 SD hingga kelas 12 SMA.

Demi memahami psikologi anak sesuai jenjang usia aku mencoba mengajar di semua level. Sebagian siswa yang kudidik ketika mereka masih SD kembali bertemu denganku setelah mereka SMA. Kembali menjadi guru mereka setelah lima atau tujuh tahun kemudian selalu memberi sensasi dan kebanggaan tersendiri. Melihat pertumbuhan dan prestasi mereka kini mengingatkanku bagaimana perilaku, semangat belajar, dan segala hal yang kuketahui tentang mereka beberapa tahun sebelumnya ketika mereka masih siswa SD.

Begitulah hidup. Didikan yang kita terima pada masa kecil menentukan arah masa depan kita. Menjalani pendidikan yang baik akan menjadikan masa depan yang cerah itu sungguh ada. Orangtua dan guru tidak boleh lalai akan hal itu.

Sebagai seorang pendidik aku selalu mendorong siswa-siswa untuk berprestasi dan berkuliah di universitas terbaik. Jika ingin lulus di PTN favorit maka kita harus menghindari penundaan belajar. Karena penundaan belajar ibarat penyakit kanker stadium 4 yang begitu kuat membunuh impian setiap generasi muda, khususnya yang ingin kuliah di PTN favorit.

Mudah saja bagi kita untuk melewatkan satu hari, terutama hari yang sibuk, dan di penghujung hari itu, kita bertanya pada diri sendiri, “Kok tahu-tahu sudah jam tidur malam? Apa saja yang sudah kulakukan?” Dan sejujurnya, kita tidak dapat mengingat apa saja yang sudah kita selesaikan. Karena semua masih sebatas rutinitas yang tidak memiliki korelasi langsung dengan impian masa depan.

Keesokan harinya hal yang sama terjadi lagi. Tanpa kita sadari, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu. Namun kita masih saja bertanya-tanya ke mana terbangnya waktu dan apa yang sudah kita hasilkan selama itu. Sementara itu target-target yang sudah kita tetapkan, daftar soal-soal yang ingin kita bahas dan kerjakan, tumpukan kerja yang ingin kita selesaikan, masih ada di sana. Belum kelar, belum dipahami, dan belum tuntas. Semua karena penundaan akut yang tidak kita atasi. Akhirnya kita hanya bisa pasrah dan menyerah.

Post Comment